cerpendunia

email:coolabis@gmail.com

Sunday, October 15, 2006

nail dan dua anjing hitam

pukul 11 siang. di jalan warung buncit raya, kemacetan menggila. orang-orang berjalan kaki dari dua arah menuju ke satu tempat. seorang bocah tergantung di sebuah jembatan penyeberangan.
**
tiga puluh menit berlalu. bocah mungil berambut poni itu menunggu ibunya dengan duduk menyandar pada tembok sekolah yang berbatasan dengan pagar trotoar. mulai minggu lalu ia belajar di sekolah madrasah ini. namanya nail. ibunya selalu mengantar dan menjemputnya tiap hari. tak seperti biasanya, siang ini keduanya belum muncul.

teori relativitas einstein beraksi. terasa sangat lama ia telah mencermati angkot-angkot yang terseok-seok menyusuri aspal yang sehitam asapnya. berharap secepatnya salah satu angkot yang sewarna celana pendeknya berhenti dan mengeluarkan ibunya dari dalam tubuhnya.

berpuluh angkot melewatinya, tak satupun yang berhenti. apakah ibunya tak akan menjemput hari ini? pikirannya dengan cepat memutus analisa otaknya sebelum selesai membuat kesimpulan. bukankah binatang sebuas singa akan tetap melindungi anaknya dari bahaya yang akan merampasnya?.

untuk menuju sekolahan, ia harus dua kali berganti naik angkutan kota. pulangnya hanya sekali, namun harus menyeberangi lalu-lintas padat, serupa arus sungai banjir yang tak sesuatu pun bisa menghadangnya. keberisikan suara mesin mobil mirip suara-suara yang ia dengar saat ayahnya pulang pagi dengan aroma nafas naga.

nail duduk dibawah pohon, berlindung dari sinar matahari yang mulai memanas. kulit putihnya memerah dan bintik-bintik air di pucuk hidungnya kian membesar lalu meleleh. tangan mungilnya terlalu berat menjinjing tas yang berisi buku pelajaran sekolah, kaos dan celana pendek. hari ini ada pelajaran olahraga.

ia menoleh ke halaman sekolahnya. sepi. semua teman-temannya sudah pulang dengan mobil jemputan atau dijemput ibunya. pintu-pintu ruang kelas tertutup rapat, bel istirahat belum dibunyikan.

belum tampak kelebat tubuh ibunya.

tatapan matanya beralih ke jalan raya, mencermati mobil-mobil yang meluncur, berdesakan dengan sepeda motor dan orang-orang yang berseliweran menyeberang jalan yang kadang dengan berlari.

sebenarnya sekitar lima puluh meter dari tempat orang-orang menyeberang, jembatan penyeberangan yang terbuat dari besi kokoh berdiri. sebab kemalasan orang melewatinya, mungkin karena harus menapaki 30 anak tangga untuk mencapai keatas.

ia melangkah ke halte depan kuburan. letak kuburan tersebut persis bersebelahan dengan kelasnya. ia duduk, sederet dengan dua orang laki-laki berambut panjang. keduanya saya kira bukan pekerja kantoran. ia memakai sandal jepit dan berkaos oblong bulukan. bukan pula pengamen, tak terlihat membawa alat musik atau buku catatan puisinya.

kedua pemuda berbincang sambil merokok. nail sesekali melirik ke arah mereka. sebelum tatapannya beradu dengan salah satunya, ia langsung menoleh ke arah lain. begitu sampai tiga kali. ia bergeser menjauh ke ujung halte, berpura-pura sebagai penumpang yang menunggu angkot.

atap halte tak cukup mampu menghalangi sinar matahari yang belum tegak lurus di atas kepala. tenggorokan nail serasa tercekik pecahan kaca. tulang-tulangnya serasa makin lemas setelah mengikuti olahraga sepak bola. ia melihat warung rokok yang menjual minuman di samping halte, menatapnya lama dan air liurnya tertelan secara tak sengaja. uangnya ludes di meja kantin sehabis olah raga.

ia mulai mengabaikan mobil-mobil angkutan kota yang tak membawakan ibunya. diam-diam ia menyalahkan ibunya yang tak mengikutkannya pada mobil jemputan. alasanya, belum mempunyai uang.

ia memutuskan menyeberang. kaki kecilnya melangkah mendekati batas antara trotoar dan aspal. jalan warung buncit raya yang lebar dibagi menjadi dua jalur. jalur untuk kendaraan yang menuju ke arah kuningan dan jalur yang menuju ke arah ragunan. masing-masing jalur dibagi lagi menjadi dua lajur. dan diantara jalur itu diberi pagar besi pembatas warna warna biru. sewarna bendera partai yang bermarkas di seberang madrasah ini.

namun pagar besi pembatas hanya beberapa meter saja. selebihnya blok-blok semen setinggi sepuluh sentimeter. di ujung pagar batas ini orang-orang berlalu lalang menyeberang jalan atau berputar balik. ada yang berjalan kaki, bersepeda motor, bergerobak atau bermobil. memang tak ada rambu-rambu yang terpasang, baik yang menandai boleh menyeberang atau larangan menyeberang. minggu lalu, seorang laki-laki gendut tertabrak kontainer, terseret beberapa pulu meter. isi perutnya tumpah terburai.

nail mempersiapkan strategi untuk melangkahkan kaki mungilnya. ia menolehkan kepalanya ke kanan sembilan puluh derajat. otaknya sedang memperhitungkan kecepatan kaki yang harus ia langkahkan untuk bisa melewati jalan selebar delapan meter pertama itu dan menghindarkan tubuh kecilnya berbenturan dengan mobil atau sepeda motor. tak ada orang dewasa saat itu yang bisa dibarengi. dan ia enggan meminta tolong kepada dua laki-laki yang masih duduk-duduk di halte.

nail terus menatap pada arah datangnya mobil-mobil yang berdesingan, yang tak memberi kesempatan, meskipun ia telah melambai-lambaikan tangan kanannya yang mencengkeram kaos seragam. sesekali kaosnya dipakai untuk menutup kepalanya yang terpanggang matahari.

sepuluh menit ia berdiri di pinggir, saat yang tepat untuk menyeberang. perkiraanya, jarak mobil dengan dirinya memungkinkan untuk segera berlari. kelihatannya mobil carry perak berlari lebih lambat. namun dari sebelah kanan mobil, meluncur sepeda motor berkecepatan badai. nail menghentikan niatnya, mundur kembali ke trotoar dan menyandarkan punggungnya pada tembok kuburan. ia harus menunggu kesempatan berikutnya.

kini ia duduk di bawah bayangan daun mahoni yang menaunginya. matanya tetap nyalang mencermati mobil-mobil yang lewat. ia menatap aspal hitam yang mengepul-epul mengeluarkan uap transparan. mobil-mobil yang ia liat tampak membayang kabur.

ibunya mungkin masih dalam perjalanan.

ia mengarahkan langkahnya menuju jembatan penyeberangan. jembatan besi yang kusam, berkarat dan lengang. di sebelahnya tiang listrik yang ditempeli poster-poster kertas hvs putih yang `menawarkan tempat kost, penyewaan studio musik, katering dan lowongan kerja berdiri. di tiang listrik berkarung-karung sampah disandarkan. persis berada di mulut gang sawo yang berbatasan dengan dinding toilet sekolah yang bertuliskan "di sini kelak akan lahir seorang pemimpin bangsa".

bau pesing toilet dan sampah menguarkan aroma busuk menyengat. di atas aspal mengalir serupa sungai-sungai kecil warna kuning berlendir yang berhulu dari tumpukan sampah. biasanya sampah akan lenyap sebelum fajar. hari ini petugas kebersihan kota terlambat. atau mungkin memang malas karena kecilnya gaji. sampah siang ini berserakan, tumpah ruah ke aspal jalan.

satu persatu langkah kakinya menapaki anak tangga. beberapa anak tangga terlihat keropos dan bolong. ia harus melompatinya agar tak terperosok ke dalam lubang yang menganga. ketika mencapai anak tangga teratas, seekor anjing liar menghadang. anjing hitam rupanya telah mengaduk-aduk sampah mencari makanan busuk. ia terganggu dengan kehadiran makhluk kecil kelas satu sd itu.

nail mundur selangkah. tangannya meraba-raba, mencari batu. gagal, tak menemukan. kaos seragam olahraga ia acungkan disertai teriakan mengusir. anjing kudisan malah berdiri tegak menatap nyalang. seolah ia mengetahui keberanian nail yang dipaksakan.

mata merahnya mengingatkannya pada sebuah pagi buta. saat ayahnya baru saja pulang, entah darimana tak pernah mengatakan. ayahnya selalu berbicara keras. entah kenapa tiba-tiba dia melemparkan gelas, piring ke lantai. keributan itu kadang berakhir dengan lebam-lebam biru di wajah ibunya. kalau sudah begitu, nail berusaha menutup telinganya dengan guling, namun suara-suara itu tak hendak pergi.

seperti anjing di hadapannya saat ini. berbalik arah atau menunggunya pergi, pilihan satu-satunya. namun seberapa lama ia sanggup menantang panas sinar matahari?. ia memutuskan untuk turun. saat tubunya berbalik, nail meloncat dengan teriakan tertahan. kurang dari 5 meter dihadapannya berdiri anjing lain yang lebih menyeramkan.

kedua makhluk Tuhan itu seolah sepakat angin mencincang nail. mereka menampakkan gigi gerahamnya. lidahnya yang selalu menjulur meneteskan air bening yang menajiskan. ia menggonggong tiga kali mengusir nail. lalu duduk tepat di tengah-tengah jembatan penyeberangan.

nail berteriak minta tolong kepada dua orang yang masih duduk di halte. suara lemahnya membentur deru dari suara mesin-mesin yang berdesing. ingin dia melambaikan tangan setinggi-tingginya, namun tetap lebih rendah dari pagar yang berada di sisi-sisi jembatan penyeberangan yang tertutup baliho.

ibunya mungin mendapatkan masalah seperti dirinya?.

nail menurunkan tas punggungnya. ia mengeluarkan cutter dari dalam tasnya. pisau tipis nan tajam berkilat terkena sinar matahari. setiap hari senin ia selalu membawa pisau ini karena ada pelajaran ketrampilan. tadi pagi, bu guru mengajari cara membuat ketupat yang berbahan dari kertas. dan nail sangat suka memotong-motong kertas menjadi irisan-irisan yang sama lebarnya.

mampukah pisau cuternya mengoyak tubuh anjing-anjing liar? nail tak yakin. sebelum tangan mungilnya menyentuh kulit anjing, keduanya akan menubruk dan menggigit tubuh yang masih empuk itu.

nail meraba`baliho panjang ucapan selamat menunaikan ibadah puasa dari sebuah produk makanan. ia mengiris tali yang berada di empat ujung kain sampai terlepas. lalu ia mengikatkan kain panjang pada salah satu tiang pagar. pelan-pelan ia menuruninya. ternyata panjang kain hanya empat meter, setengah dari tinggi jembatan penyeberangan. nail tergantung berayun di atas mobil-mobil yang berseliweran.

seperti diperintah, semua kendaraan dari dua arah berhenti mendadak. mereka berteriak, "ada anak kecil bunuh diri di jembatan penyeberangan". suara-suara itu bersambungan seperti toa yang memanggil-manggil. tempat itu mendadak menjadi kerumunan raksasa orang-orang yang penasaran. nail yang makin tak tahan bergantung di kain, tak bersuara. sampai seseorang laki-laki berambut panjang membawa tangga, memeluk dan menurunkan nail.

ibunya entah kemana.

Thursday, March 09, 2006

menulis di atas batu

"Andai penyesalan datangnya tak belakangan, kisah ini tak akan pernah kutuliskan pada sebuah batu. Sayang, bahasa tak sanggup sepenuhnya mewakili apa yang aku rasa. "

Waktu itu usianya 16 tahun. Ibarat bunga, kuncup itu baru akan memulai rekahnya. Kepolosannya memancing penasaran kumbang-kumbang yang datang. Maryam, nama gadis itu kini tak bersekolah lagi. Ia memupus cita-citanya. Keinginan menjadi polisi terkubur bersama jasad ayahnya yang tertimbun longsoran pasir di kaki bukit.

Tio, Laki-laki yang beruntung memetik kuntum bunga itu. Tentu saja, ia berasal dari kota. Pakaiannya bagus. Kulitnya bersih. Sementara pesaingnya hanya pemuda-pemuda kampung sederhana. Saingan terberatnya kala itu anak kepala kampung yang mempunyai sepeda motor dan bapaknya yang punya berpetak-petas sawah.

Perkenalan Maryam dengan Tio terjadi pada saat ia berada di terminal. Ibunya menyuruh menjual perhiasan warisan dari neneknya. Ia tampak kebingungan ketika bus yang di tunggu-tunggu tak muncul. Gelap sudah merambat naik. Dari arah yang tak di duganya, Tio menawarkan diri untuk mengantarnya.

Sejak pertemuan itulah keduanya makin akrab. Maryam kini makin pintar berdandan. Tiap Sabtu, Maryam duduk manis di emperan rumahnya menunggu kekasihnya. Ia membayangkan oleh-oleh yang akan diterima sore itu. Minggu Tio membawakan alat make up dan pakaian yang modelnya aneh bagi orang-orang kampungnya. Ia kini biasa memakai celana pendek dan kaos ketat tanpa lengan.

Kini ia lebih seksama memperhatikan bunga mekar sore (Mirabilis jalapa L.) yang berderet di pagar depan rumahnya. Kedatangan kekasihnya selalu berbarengan dengan mekarnya bunga yang berwarna kuning berbentuk terompet itu. Atau paling lambat bersamaan dengan munculnya iring-iringan blekok di awan yang membentuk huruf V.

Ibu Maryam tak kalah suka. Melihat anaknya yang sebentar lagi mendapat jodoh, perempuan berambut kelabu itu menyemai harapan. Beban hidup keseharian sejak ditinggal suaminya pergi, bakal ada yang menggantikannya. Dan yang lebih melegakan, anaknya tak akan mendapat julukan perawan tua.

"Maryam, hati-hati dengan orang kota. Mereka itu heyna yang menjelma kelinci," begitu salah satu tetangganya mengingatkan.

Maryam tak mengacuhkannya. Ia menduga tetangganya hanya iri melihat hubungannya dengan Tio. Laki-laki yang selalu bersepatu mengkilat itu kini malah sering menginap di rumah Maryam. Malam itu bulan bulat sempurna.

"Maryam, apa yang kau lihat di bulan itu?". Tio makin mendekapkan tangannya.

"Kata ibuku, juga orang-orang kampung ini, itu bidadari yang menunggu kekasihnya."

"Begitu setia ia. Kau tau sampai kapan?"

Maryam tak menjawab. Perempuan itu hanya memandang tajam kekasihnya. Duduk keduanya makin merapat. Mereka kini berbincang tak memakai kata-kata. Keduanya saling tahu apa yang semestinya disampaikan. Lalu terjadilah peristiwa yang diinginkan itu.

Esoknya, Tio menyampaikan keinginannya untuk mencarikan pekerjaan Maryam. Perempuan itu ragu. Namun Tio tak kurang akal. Ia menceritakan pengalaman keberhasilannya membantu orang-orang yang ingin bekerja. Ia mengaku mempunyai kenalan di kota yang sanggup menyalurkan pekerjaan.

"Tak ada yang bisa dilakukan di kampung ini, selain hanya di sawah yang hanya sepetak. Di kota, ia bisa berhasil". Begitu rayuan kepada calon mertuanya.

Perempuan itu tetap menolak. Ia malah meminta Tio menikahi Maryam. Menurut kebiasaan orang-orang kampung tersebut, sudah sepantasnya gadis seumuran Maryam menikah. Tio menyanggupinya, tapi tidak sekarang. Pada kedatangan minggu berikutnya, Tio menunjukkan kesungguhannya. Ia membawakan cincin kawin kepada Maryam. Tak hanya itu, ia menyelipkan amplop, sejumlah uang.

Malam itu, ibu Maryam mengadakan selamatan. Tetangga semua diundang. Melalui nasi kuning yang dibagikan, doa-doa dipanjatkan oleh sesepuh kampung. Udara dingin itu bertambah senyap ketika terdengar suara-suara burung emprit gantil. Tit.. tit... tit.... Menurut cerita burung pisosurit adalah jadi-jadian seorang pemuda yang cintanya kandas. Tiap malam pisosurit menyanyikan lagu dendam cintanya yang tak kesampaian. Di akhir acara, semua peserta membawa satu bungkus "berkat" untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Celaka, Maryam tak bisa berangkat esoknya. Aparat kampung menolak permintaanya untuk membuat ktp dan surat keterangan. Ia masih terlalu muda untuk bekerja. Saya menduga aparat memang sengaja mempersulit hal yang remeh-temeh tersebut. Tio tampak terbiasa memahami sebenarnya kemauan aparat. Cukup dengan beberapa lembar puluhan ribu, Tio mengurusnya. Cepat dan tak berbelit-belit. Tampaknya Tio memang ahlinya.

Perempuan tua itu berdiri. Ada senyum yang tertahan di bibirnya. Ada genangan air di kelopak mata bawahnya. Anak satu-satunya terpaksa ia lepaskan hari itu. Keduanya berpelukan lama. Perempuan yang ditinggalkan itu menatap Maryam dan Tio sampai keduanya menghilang di kelokan jalan. Maryam sesekali menoleh ke belakang, seolah mengucapkan selamat tinggal kepada kampungnya, kepada ayam-ayam juga kepada bunga-bunga mekar sore.

"Sudahlah Maryam, kamu masih bisa pulang setahun sekali nanti", bujuk Tio.

"Bang Tio dulu juga merasakannya?"

"Yang lebih penting, kamu cepat mendapatkan pekerjaan itu. Orang tuamu akan senang."

Sesampainya di kota, keduanya menemui Udin. Menurut Tio ia nanti yang akan mengurus keberangkatannya ke Malaysia. Dengan alasan mengurus pekerjaan lain, ia meninggalkan Maryam. Ia berjanji akan segera kembali ketika urusannya sudah selesai.

Tanpa sepengetahuan Maryam, Udin membisikkan kata-kata asing. Bahasa aneh yang tak tak dipahami Maryam. Begitu Tio pergi, Udin langsung mengajak Maryam pergi. Dengan menumpang bajai, sampailah ke sebuah rumah besar. Pagarnya setinggi orang dewasa. Tampak beberapa satpam menjaga rumah itu. Tanpa kesulitan, Udin dan Maryam melenggang melewati pemeriksaan. Rupanya Udin sudah terbiasa memasuki rumah bercat putih itu. Ada papan nama di depannya. Sebuah tempat pusat kebugaran.

Udin bergegas meminta resepsionis untuk memanggilkan Ibu Mamay, pengelola dan pemilik tempat ini. Perempuan gendut berkulit putih itu mengamati Maryam dari bawah pelan-pelan meramabt sampai ujung rambutnya.

"Tidak begitu jelek!, katanya.

Sambil tangannya terus bergerak-gerak, Ibu Mamay mulutnya nyerocos mirip nenek-nenek bawel yang memarahi cucunya. Ia mmenjelaskan, sebelum berangkat ke Malaysia, Maryam dan perempuan-perempuan lainnya lebh dulu menunggu di tempat ini. Udin sedang mengurus prosesnya. Ketika beres, semua akan diberangkatkan.

Ibu Mamay lalu mengantar Maryam menuju ke kamarnya. Ternyata rumah ini sangat panjang ke belakang. Terdiri dari dua bagian. bagian depan dan bagian belakang. Dipisahkan oleh ruang terbuka yang berumput hijau. Mirip asrama. Ada kamar-kamar tak berpintu, hanya berkorden warna putih. Setelah melewati pintu besi yang di kunci dengan gembok besar, di situlah kamar pribadinya. Di kamar belakang itu juga telah berkerumun perempuan-perempuan seumuran dia bahkan ada yang lebih muda. Mereka sedang menunggu untuk diberangkatkan ke luar negeri.

Kontras dengan kamar-kamar tak berpintu di ruang depan, kamar ini sempit, 3 x 4 meter saja. Di dalamnya hanya ada ranjang susun yang jumlah tingkatnya empat. Dan sebuah lemari kecil. Jumlah kamar tidurnya sangat kurang. Kebanyakan mereka tidur di lantai. Nyaris keributan terjadi setiap pagi memperebutkan kamar mandi yang jumlahnya hanya empat. Padahal jumlah perempuan yang menghuni tempat itu sekitar seratus orang.

Jam, hari dan minggu berlalu. Perempuan-perempuan malang itu hanya bisa pasrah menunggu. Mereka dilarang ke luar rumah. Ketika mereka menanyakan Ibu Mamay, jawabannya selalu sama. Suratnya masih dalam proses.

****

Malam itu Maryam berada dalam sebuah aquarium bersama perempuan-perempuan yang memakai baju minimalis. Tampak sebuah tanda warna merah muda yang terbuat dari plastik tertempel di pinggul sebelah kiri. Sebuah nomor yang memudahkan para laki-laki ketika menginginkan, tinggal menyebutkan nomornya.

Wajah-wajah perempuan itu mirip pantat kunang-kunang, lebih bersinar dalam keremangan lampu. Irama lagu "anggur merahnya meggy Z" menyibak asap yang mengepul-ngepul dari bibir-bibir yang berbentuk sosis.

Di ruangan itu, Maryam merasa seperti seekor tikus yang berada di kandang seekor ular sanca. Ia mondar-mandir, mencari-cari celah yang bisa dimanfaatkan untuk kabur. Nyaris tak ada. Para penjaga selalu sigap dengan hidung anjingnya. Mereka selalu mengendus gerak-gerik perempuan-perempuan yang berada di dalam kaca tersebut. Bahkan ketika ada tamu yang mem"booking" nya untuk diajak keluar, beberapa body guard itu pun akan mengikutinya dari belakang.

Diluar tampak para lelaki melambatkan langkahnya sambil matanya menoleh ke samping kiri atau kanan. Maryam selalu deg-degan menunggu panggilan dari speaker yang berada di atasnya. Sosok laki-laki dalam angannya tiba-tiba menjadi sosok iblis. Sebagai pendatang baru, Maryam selalu paling pertama mendapapatkan "job" selama dua bulan ini.

Namun malam itu ia ogah-ogahan. Ia tak pernah menerima hasil desah payahnya . Semua masuk ke kantong Mamay. Ketika Maryam memerlukan uang, Mamay hanya memperbolehkan kas bon. Menurut Mamay, uang yang masuk itu nyaris habis untuk jatah orang-orang turut melakukan dirinya. Sopir taksi yang yang mengantarkan tamu-tamu, polisi yang menjaga keamanan dan petugas kesehatan yang memeriksanya tiap minggu.

Nyalinya menyempit ketika ia ingat tak tahu harus kemana ia menuju. Kota ini asing, ia tak punya kenalan atau saudara. Jangan-jangan seperti yang ia lihat di tv malam lalu, seorang di bunuh di sebuah taman kota setelah di perkosa ramai-ramai. Dan kalaupun ia bisa pulang, bagaimana ia akan menjawab pertanyaan ibu dan tetangga-tetangganya?

Ketika para penjaga lunglai, menyerah pada kantuk yang menyerang, Maryam nekat memanjat diding yang tingginya nyaris lima meter. Dengan memakai tangga yang tak terpakai, hanya Maryam yang berani kabur dari tempat pemasungan itu. Sampai juga ia ke kantor polisi. Ia melaporkan praktek prostitusi yang berkedok rumah pengobatan.

Polisi tak begitu antusias menanggapi laporan itu. Maryam seperti ikan yang menyongsong bubu. Polisi merasa tak perlu bekerja keras untuk mendapatkan teman kencan malam itu. Maryam lalu dibawa ke bilik sebelah dalam. Tak ada orang lain. Polisi itu berjaga sendirian. Maryam lepas dari kandang macan tercebur ke laut tempat hiu-hiu putih berpesta. Paginya, Polisi mengantar tubuh Maryam yang pingsan ke tempatat ibu Mamay.

Tio lenyap. Tak pernah sekali pun ia melihat lagi. Laki-laki tempat ia menggantungkan masa depannya itu memerangkap dirinya. Maryam menunduk, pasrah entah sampai kapan. Ia terus menuliskan kisahnya pada sebuah batu. Ia berharap kelak orang yang membacanya tak terjebak seperti dirinya.

Wednesday, March 01, 2006

kyai cemara angin

Kepada lelaki yang ingin merayakan hasrat terpendam, datanglah ke kampungku. Kalian akan bisa melepas nafsu alami purba itu pada perempuan-perempuan cantik kampung kami. Jangan berpikiran mesum dulu. Ini bukan sebuah perzinahan liar.

Untuk mencapai kampungku, cukup mudah. Setelah perjalanan setengah hari dari pusat kota, anda akan melewati jembatan yang di samping kiri dan kanannya menjulang cemara angin. Dari pohon itulah orang-orang menyebut nama kampungku. Lalu berhentilah di pertigaan pertama. Di situ kalian akan disambut tukang ojek yang sudah menunggu.

Petunjuk yang ia dengar dari bisikian mulut ke mulut itu tak salah. Setelah turun dari bus, Umar yang berambut kribo itu sudah dijemput deretan dua tukang ojek yang rata-rata memakai mriwis, sebutan untuk sepeda motor tahun tujuhpuluhan. Umar yang baru pertama kali menginjakkan kakinya daerah itu merasa asing.

Dalam guyuran panas matahari yang melelehkan kulit, ia manyapukan pandangan ke sekeliling. Di samping dua stukang ojek, ada sebuah warung makanan yang bangunannya terbuat dari bambu dan beratap rumbia. Ia membatalkan rencananya memasuki warung tersebut. Ia memilih melangkah ke bawah pohon trembesi.

“Bos, bos mau kemana?, mari saya antar,“ tanya basa-basinya salah satu tukang ojek. Namanya Sidik.

Laki-laki paruh baya itu tak segera menjawab. Ia tak tahu pasti tempat yang akan di tujunya. Namun Sidik yang sudah mangkal di pertigaan itu sejak lima tahun paham benar perilaku laki-laki asing yang sering datang ke kampungnya. Lalu ia mengantarkan tamunya itu ke rumah pak Kyai.

Untuk menuju ke kampung yang berada di seberang sungai itu, mar dan Sidik melewati persawahan yang kini kering kerontang. Mereka harus menempuh jarak kurang lebih dua kilo dari jalan raya beraspal. Tanahnya rekah-rekah selebar kaki anak kecil. Rumput-rumput meranggas kecoklatan. Di kejauhan beberapa ekor sapi di gembalakan.

Sesampainya di jembatan, dua orang menghadang tepat di tengah jalan. Tanpa berkata-kata salah satu dari mereka menyerahkan kaleng biskuit bekas yang berbentuk kotak. Mereka mengutip setiap orang baru seperti Umar yang mencari isteri kedua atau mungkin ketiga.

Sepanjang perjalanan, tanpa diminta, Sidik menceritakan keunggulan perempuan-perempuan di kampungnya dibanding perempuan kampung lain.

“Selain cantik-cantik, mereka orangnya nrimo. Jika Pak Umar terlambat mengunjungi atau memberi nafkah, mereka tak banyak protes. Mereka penuh pengabdian kepada suami dan pekerja keras. Proses akad nikahnya pun sangat mudah dan tak perlu biaya mahal.”

“Pak Umar suka yang seperti apa? Yang kulitnya kuning langsat, hitam atau coklat muda? Yang semampai, langsing atau gemuk? Jangan kuatir pak Umar pasti menemukan. Sejak dulu Pak Umar, kampung ini paling terkenal. Jarang ada laki-laki yang kecewa.”

Sidik hanyalah salah satu dari anak buah pak Kyai yang jumlahnya enam.

Ketika Umar menginjakkan kakinya di rumah yang berbentuk joglo itu, Pak Kyai langsung mengucapkan selamat datang dengan memeluk erat. Mirip pertemuan dua kawan lama yang memendam kerinduan. Umar, tamu kedua hari itu yang mengunjunginya.

Wajah Pak kyai yang sudah berkerut-kerut mirip kulit jeruk itu sumringah. Rona matanya memancarkan cahaya yang menambah cerah warna putih sorban yang dikenakannya. Ia memakai peci warna putih, baju takwa putih dan sarung kotak-kotak yang bercorak putih.

Sudah terbayang pemasukan yang akan ia dapatkan. Kalau transaksi dengan pak Umar ini “cair”. Pundi-pundi uangnya yang kuduga terbuat dari tanah berbentuk babi itu akan segera penuh.

“Silakan duduk Mas", kata pak Kyai. Setelah berbincang sebentar, ia melanjutkan.

“Agar cepat terwujud keinginan mas Umar, sebut saja perempuan seperti apa yang diinginkan? Mas Umar tinggal terima beres.

Laki-laki yang berwajah bulat itu tersenyum. Ia menggeser tubuhnya yang tambun agar lebih dekat ke pak Kyai. Dengan suara rendah, ia mulai bicara.

“Pak Kyai sebenarnya ini keputusan terakhir saya datang ke kampung ini. Andai isteri mengijinkan saya menikah lagi, tentu tak perlu susah payah datang ke sini. ”

“Pak Umar tidak sendiri. Saya kira wajar, laki-laki ingin mempunyai lebih dari satu isteri. Agama juga tidak melarang bukan? Jadi Pak Umar tak perlu merasa bersalah.”

“Betul pak Kyai, saya takut dosa kalau saya harus jajan di lokalisasi atau berselingkuh.”

Umar lalu mengeluarkan rokok Dji Sam Soe dari sakunya. Melihat itu, pak Kyai matanya seolah-olah mau jatuh. Dalam hatinya ia sangat berharap segera mendapatkan tawaran untuk menghisapnya. Dari rokok yang pangkalnya terbalut warna kuning itu, pak Kyai tahu tamunya pasti banyak uang.

“Mas Umar sudah tepat datang ke kampung saya. Prosesnya sangat mudah dan biayanya juga murah.”

“Kira-kira berapa semua biayanya pak Kyai?”

“Tergantung mas Umar menginginkan yang mana. Kalau janda biayanya sekitar RP 1.000.000. Kalau yang masih perawan, dua kali lipatnya. Kami hanya membantu untuk menghindari zina, tidak mencari untung. Hanya saja jika mas Umar tak mengunjungi isteri minimal sekali sebulan, otomatis isteri mas Umar bisa kawin lagi”

Pak Kyai menjelaskan panjang lebar dengan asap mengepul dari mulutnya. Asap itu membentuk bola-bola kabut yang menghalangi pandangannya ke arah tamunya. Ia takut tamunya akan membatalkan niatnya.

“Tapi jangan kuatir Mas Umar, semua bisa dibicarakan”, tambahnya.

Keduanya sepakat! Tampak kedua tangan mereka berayun-ayun saat berjabatan.

Pak Kyai memanggil Sidik yang menunggu di halaman untuk pergi ke rumah Jamal. Sidik tahu, Jamal juga anak buah pak Kyai, hanya tugasnya berbeda. Jamal khusus menyediakan perempuan-perempuan dengan ciri-ciri kurus, tinggi, cantik dan kulitnya kuning langsat.

Masih ada anak buahnya yang bernama Ikhsan. Tugasnya masih sama seperti jamal. Namun Ikhsan khusuus menyediakan perempuan-perempuan cantik dengann ciri-ciri yang lain.

Dan masih ada beberapa anak buah Pak Kyai tugasnya berkeliling kampung. Merayu perempuan-perempuan dan meyakinkan bahwa mempunyai suami itu lebih terhormat. Di samping ada yang membantu kehidupan sehari-harinya.

Sebelum menstater motornya, Sidik menghampiri Pak Umar untuk meminta ongkos. Karena sebelumnya tak ada kesepakatan, Sidik lalu meminta jumlah yang cukup besar, Rp 20.000.

Tak berapa lama, Sidik sudah kembali dengan foto perempuan yang namanya Atikah, janda beranak satu.

Pertama kali Atikah menikah ketika ia berusia 16 tahun. Saat itu orang tuanya tak kuat membiayai sekolahnya. Ia dipaksa menikah dengan laki-laki sekampung pilihan orang tuanya. Pernikahannya waktu itu dilakukan di KUA. Namun hanya berlangsung lima tahun. Atas keinginan orang tuanya juga, mereka bercerai. Tapi kali ini tak melewati persidangan di pengadilan. Mereka enggan karena biayanya mahal dan ribet.

Disaksikan oleh mertuanya dan aparat desa, suami Atikah menyerahkan kembali ke orang tuanya. Sejak saat itu Atikah tak punya harga diri lagi di mata masyarakat kampungnya.

“Siapa yang mau kawin dengan janda? Sepertinya sulit untuk menerima ajakan menikah secara syah di KUA,” katanya.

Harapannya kini hanya menunggu laki-laki yang mengajaknya kawin kontrak.

Sidik mengambil foto Atikah dari saku. Disaksikan pak Kyai, Umar langsung menyambar foto yang masih berada di genggaman sidik. Jantungnya berdetak lebih kencang. Terlintas gairah dan kenikmatan yang akan segera direguknya.

Bagai kerupuk yang tercelup di dalam air, ia merasa tak cocok dengan perempuan yang ditawarkan. Melihat ekspresi pak Umar, Sidik bersorak dalam hati. Ongkos ojek akan segera masuk ke kantongnya lagi. Pak Kyai kini menyuruh Sidik pergi ke rumah Ikhsan.

Rupanya di tempat Ikhsan pun saat ini persediaan kosong. Tak ada janda lagi di kampung ini. Tinggal gadis-gadis perawan yang tentu menolak di madu. Matahari sudah mendarat di kaki langit. Sinar redupnya mirip ekspresi wajah pak Kyai. Pak Kyai meminta tamunya untuk pulang dan kembali esok harinya.

Saat kelebat Umar menghilang, Pak Kyai, Sidik dan Jamal merancang sebuah skenario.

Pagi itu embun-embun masih bergantung di ujung daun, bertiga mereka kini di temani seorang perempuan yang bernama Lutfiah. Mereka berkumpul di ruang dalam, menunggu Umar. Perempuan itu memakai pakaian panjang warna pink dan berkerudung putih berenda. Aroma wangi meruap dari tubuhnya.

Tak berapa lama, dari kejauhan orang yang ditunggu-tunggu itu memperlihatkan langkahnya yang bergegas. Dengan sigap, Lutfiah menyelinap ke ruang belakang.

Pak Kyai, Jamal dan Sidik menyambut di teras. Kali ini pak Kyai sengaja tak mengajak tamunya masuk. Mereka duduk berbincang di bangku panjang. Saat itu, lewat pintu belakang, Lutfiah berjalan melewati jalan depan rumah pak Kyai dengan membawa kitab suci di dekapanya.

Tiba-tiba pak Kyai memanggil perempuan itu dan mengajaknya masuk. Tentu saja Lutfiah pura-pura tak bersedia. Ia menolak dengan alasan mau mengajar ngaji. Namun pak Kyai memaksanya.

Perempuan itu berusaha melangkah seanggun angsa. Ia duduk menunduk dengan kaki merapat. Pak Kyai lalu berpromosi. Mengatakan, Lutifiah saat ini sibuk menjadi guru mengaji. Dengan mantap, Pak Kyai juga bercerita Lutfiah adalah lulusan pondok pesantren dan masih perawan. Banyak laki-laki yang meminangnya. Kyai, kepala desa dan pegawai negeri. Namun Lutfiah menolaknya.

Lutfiah rupanya tipe perempuan idaman pak Umar. Saat itu juga Pak Kyai mempersiapkan acara akad nikah. Tak ada perayaan atau tamu undangan. Kedua orang tua Lutfiah pun tak dikabari. Masyarakat di kampung tersebut menganggap seorang janda bebas melangsungkan pernikahan kapan saja, tak perlu lagi meminta ijin.

Di ruang tamu berlantai semen siang itu akad nikah berlalu dengan mas kawin yang sudah ditetapkan pak Kyai. Sekejap, acara pernikahan selesai. Pak Kyai menyatakan, Umar dan Lutfiah sudah sah menjadi suami isteri.

Laki-laki berjanggut putih itu lalu meminta pengantin baru beristirahat di kamar khusus. Kamar itu sengaja disediakan isterinya untuk pengantin yang menginap. Di dalamnya tampak ranjang berkelambu putih yang tampak bersih. Kontras dengan tembok kusam yang bergaris-garis menganak sungai.

Namun Umar dan Lutfiah memilih pergi ke kota untuk merayakan bulan madunya.

Esoknya, Jamal, Sidik dan aparat desa telah berkumpul di rumah Pak Kyai. Di tangan pak Kyai tergenggam amplop putih, maskawin dari Umar untuk Lutfiah. Jumlahnya dua juta rupiah. Uang itu lalu dibagi-bagi sesuai kesepakatan yang dibuat pak Kyai. Selain untuk mereka berempat, Pak kyai juga menyisihkan untuk aparat desa dan polisi sebagai uang keamanan. Tak lupa sumbangan untuk mushola. Tentu saja jumlah terbesar adalah bagian pak Kyai.

Tanpa di duga, Umar datang dengan raut muka menahan marah. Ia menuntut Pak Kyai untuk mengembalikan uang yang telah diserahkan. Menurutnya, Lutfiah bukan perempuan baik-baik karena semalam ia menghilang. Perempuan itu pamit ke toilet dan tak pernah kembali lagi.

Tentu saja Pak Kyai menolak mentah-mentah tuduhan itu. Ia mengeluarkan kartu trufnya. Ia memanggil kedua orang tua Lutfiah dan aparat kampung. Giliran orang tua Lutfiah yang pura-pura marah besar. Kali ini Umar mendapat tuduhan melarikan anak gadis orang. Jika tak sanggup menemukan anaknya, orang tua Lutfiah akan melaporkan ke polisi. Geraham Umar makin berkerutuk. Ia tak punya pilihan lain.

Pak Kyai lalu menawarkan kesepakatan untuk memecahkan persoalan tersebut tanpa saling merugikan. Pak Kyai meminta Umar menyerahkan sejumlah uang untuk membungkam orang tua Lutfiah dan pak polisi. Kali ini Umar baru sadar, dirinya terkurung dalam perangkap. Ia tak berkutik, ia memilih berdamai. Pak Kyai merasa berada di awang-awang. Ia lalu menetapkan sejumlah uang yang harus dibayar Umar sebagai denda.

Monday, February 13, 2006

bunga bunga

Sejak mengenal karyawan baru di kantornya, Tito rajin bangun lebih pagi dan ingin secepatnya sampai di kantor. Ia menggerakan tubuhnya seringan kapas. Bergegas beranjak meninggalkan tempat tidur menuju kamar mandi. Suara-suara nyanyian kecilnya bergema. Tapi tak ada yang mendengar.

Sejak ditinggal isterinya training ke Bangkok dua bulan lalu, ia merasa kehilangan teman berbagi. Tak ada lagi yang menyiapkan sarapan, pakaian sebelum berangkat. Sebenarnya sejak menikah isterinya lebih memilih mengurus keluarga, tak bekerja di luar lagi.


Andai anak pertamanya tak meninggal, kehidupan keluargannya tak akan berubah.

Hidup memang selalu tak terduga. Ketika usia kandungan isterinya menginjak tujuh bulan, petaka itu terjadi. Sore itu ketika isterinya membilas tubuhnya di kamar mandi, seekor kecoak hinggap di punggung isterinya. Karena terkejut, isterinya berjingkrak-jingkrak kegelian. Lantai kamar mandi yang penuh busa itu membuat isterinya terpeleset. Ia mengalami pendarahan parah.

Tito langsung membawa ke rumah sakit. Dokter tak bisa menyelamatkan calon bayinya. Janin itu langsung meninggal. Padahal Tito dan isterinya sangat mengharapkan kehadiran bayi dalam rumah tangganya sejak sepuluh tahun lalu. Segala usaha dilakukan. Dari terapi terapi doa-doa, minum jus kecambah kacang ijo tiap pagi sampai datang ke orang-orang pintar.

Suatu hari dokter menyatakan isterinya hamil. Keduanya begitu bergembira. Semua teman-temannya dikabari lewat milis, telepon dan surat. Isterinya lalu rajin menulis perkembangan kehamilannya di sebuah blog. Nama-nama sudah dipersiapkan, meskipun belum tahu jenis kelamin bayinya.

Kepergian bayi itu membuat isterinya mengurung diri di kamar berhari-hari. Jangankan mengurus suami, dirinya sendiri saja ditelantarkan. Saat itulah ia lupa sebagai seorang isteri, bahkan di kamar tidur sekalipun. Isterinya akan merasakan kesakitan yang sangat ketika tangan Tito menjamahnya.

Tangan suaminya yang berbulu, tiba-tiba berubah seperti tangan kingkong di film. Tubuh suaminya tampak bak ular kobra yang siap membelit dan mematuk. Perempuan itu histeris. Dan Tito hanya bisa menenangkan. Beberapa menit kemudian isterinya akan normal kembali, seolah tidak terjadi apa-apa.

Dokter menasehati Tito untuk bersabar. Dan ternyata benar, isterinya kini sudah bisa diajak ngobrol meskipun sepatah dua patah kata. Ia mulai makan teratur, tapi belum mau keluar rumah. Agar isterinya tidak kesepian, Tito membelikan seperangkat komputer agar bisa berkomunikasi dengan dunia luar.


Pagi itu, ketika tahu suaminya sampai di kantor ia akan segera menyalakan webcam di komputernya. Lalu mengajak ngobrol, menceritakan apa yang ia rasakan semalam. Lalu obrolan itu berlanjut terus ke topik yang sangat intim sambil memandangi wajah suaminya di layar komputer.

Tampak wajah suaminya lebih tampan dari yang dilihatnya selama ini. Suaranya yang keluar lewat speaker juga lebih mantap. Terdengar sangat bijaksana. Perempuan itu menjadi bergairah. Ada kenikmatan yang tak ia rasakan sebelumnya.

Ketika suaminya meeting ia lalu mengundang orang-orang yang sedang online saat itu. Perempuan itu exciting, ia tak sendirian. Ada banyak orang yang mempunyai keinginan yang sama dengan dirinya. Bahkan ada yang lebih liar. Perempuan itu sangat menikmati ucapan kata-kata lawan bicaranya. Entah di belahan benua mana ia berada. Perempuan itu pasrah, menuruti segala permintaan laki-laki yang diajaknya chat.

Tentu saja, kegiatan baru dengan laki-laki asing itu tak sepengetahuan suaminya. Perempuan itu kini mempunyai kebiasan baru.
**

Di dalam kamar mandi itu, Tito menatap bayangan seluruh tubuhnya di cermin. Ia kini lebih seksama memperhatikan lekuk tubuhnya. Perutnya kini sudah banyak lipatan-lipatan yang membuncit. Garis-garis di jidatnya kian jelas, keriput di kedua sudut matanya lebih dalam. Ia mencukur habis kumis dan merapikan cambangnya. Kulit itu tampak membiru ketika bulu-bulunya terpangkas habis.

Lalu ia menyusun rencana jadwal fitnesnya. Menu makan sehari-harinya mengikuti petunjuk yang ada di buku food combining. Sebelum sampai di kantor, ia akan membuat rambutnya yang semua dibelah pinggir, menjadi model mohawk yang menantang langit. Ia menghabiskan waktu lebih lama di kamar mandi.

Ketika ia memilih baju, deretan kemeja panjang yang coraknya kotak-kotak terasa sudah kadaluwarsa. Mondar-mandir ia di depan cermin, mamatut-matut kemeja mana yang cocok. Laki-laki itu memadukan kemeja panjang coklat dan dasi yang warnanya mirip. Tapi ia merasa paduan warna itu terasa kurang kontras. Tak matching, kurang eye cathing.

Kemeja lengan pendek warna hijau muda pun rasanya tak pas. Ia melemparnya ke atas kasur. Mencoba kemeja yang lain lagi dan merasa tak sreg lagi. Kemeja-kemeja itu berserak di kasur. Akhirnya ia memutuskan memakai baju yang tak begitu formal, dipadu dengan celana santai warna khakhi. Sepatunya pun bukan sepatu yang berbunyi tik tok tik tok ketika menginjak lantai. Ia menyemprotkan parfum termahal yang dipunyainya ke seluruh tubuhnya.

Belum selesai dia berdandan, telepon berbunyi. Laki-laki itu tergopoh mengangkatnya tak sampai dering ketiga.

"Ya ma, saya sudah siap berangkat ke kantor nih. Ok nanti malam. Aku tak akan telat online.

"Ah aku tak boleh pulang telat nih. Bisa bisa ia marah lagi." Tapi bukankah nanti malamitu masih lama?. APalagi ia tak menyebutkan jamnya. Berarti bisa jam , 8 , 9 atau jam 12 malam kan?" gumamnya sambil senyum.

Laki-laki itu lalu bergegas ke kantor dengan mobilnya. Tampak jalan pagi itu terasa lebih lebar. Para pengendara motor, metromini berjalan tak seperti "halilintar" yang ada di dufan. Matahari pagi mengubah wajah-wajah menjadi cerah. Langit biru, sekumpulan awan tipis membentuk sebuah lukisan abstrak. Pagi yang nyaris sempurna.

"Ting ting ting", hpnya berbunyi. Dari isterinya lagi.

"Ya, nanti kalau sampai di kantor saya telepon." Laki-laki itu lalu melempar hpnya ke jok di sampingnya.

Di setiap kelokan jalan ia memberikan sebuah apel kepada "pak ogah", yang ikut mengatur lalu lintas. Sebelumnya ia benci dengan "polisi cepek" yang menurutnya hanya cari uang. Saat itu ia hanya memberi uang recehan sambil ngedumel.

Laki-laki itu kini merasa fresh, tak sedikit pun ada guratan masalaah di wajahnya. Sambil menyetir kepalanya mengangguk-angguk mengikuti iringan musiknya Linkink Park. Sesekali tangannya menepuk-nepuk kemudi. Kadang-kadang ia tersenyum sendiri. Tak lama lagi ia akan segera bertemu dengan karyawan baru yang bermata segaris itu.

Karyawan baru itu sangat mirip dengan isterinya. Kulitnya bening nyaris transparan, sehalus pualam. Rambutnya kelam, dipotong sebahu. Dadanya menjulang. Setiap lelaki menelan ludah ketika menatapnya. Namanya Maria. Perempuan itu selalu memakai blazer. Menjelang sore ia selalu mencopot dan menaruhnya di sandaran kursi. Tinggal kaos dalamnya yang membungkus ketat tubuhnya.

Ketika ia membuka pintu kantor, semua terperangah melihat penampilan baru Tito. Ada yang bersuit-suit. Sebagian lain berdehem-dehem. Tapi laki-laki itu bergeming, seolah tak terjadi keanehan. Hampir seluruh katyawan sudah datang, kecuali Maria. Laki-laki itu langsung menuju ke ruangan pribadinya. Sebagai seorang manager, ia mempunyai ruangan sendiri yang tertutup. Tak sampai bermenit-menit, ia keluar lagi. Dan menuju ke salah satu meja staffnya.

Ia hanya ingin melihat Maria sudah datang atau belum, tapi ia tak ingin diketahui oleh karyawan seisi kantor. Ia mengajak ngobrol, tentang topik-topik yang tak penting. Begitu lawan bicara enggan menanggapi, ia pindah ke meja lain. Begitu seterusnya sampai nyaris waktu makan siang. Maria belum datang. Dari bisik-bisik ia tahu, Maria langsung meeting dengan client. Ia kembali ke ruangannya sendiri.

"Ini kesempatan terbaikmu, sampaikan keinginanmu".

Tito masih tetap menunduk.

"Jangan pikirkan isterimu. Kamu yakin isterimu disana sedang memikirkanmu sekarang, " begitu bisikan-bisikan yang tiba-tiba terdengar.

Ia mengangguk-angguk seolah menyetujui ide yang dahsyat. Laki-laki itu lalu pergi ke Jalan Barito, ke sebuah toko bunga. Di sisi kiri jalan sepanjang kira-kira 300 meter itu berserak bermacam bunga warna-warna. Di benaknya ia dan Maria ingin seperti di film-film India yang selalu bernyanyi dan menari di tengah padang bunga.

Siang itu ia melewati jalan barito itu entah telah yang keberapa. Jalanan macet, waktu makan siang tiba. Mobil-mobil berjalan merayap. Tito mencermati setiap toko lebih seksama. Tapi ia belum tahu bunga apa yang pantas untuk bidadarinya.

Ia menepi dan masuk ke toko yang paling besar.

"Akan kuberikan seikat bunga mawar!. Ya mawar merah!"

Setengah berteriak ia seolah berhasil mendapatkan cinta Maria. Seperti yang dibacanya, mawar berarti perasaan cinta yang menggebu. Sangat pas mewakili hatinya saat ini. Tapi ia menjadi ragu ketika semua orang memberikan mawar untuk kekasihnya.

"Basi! Aku ingin memberikan suatu kejutan yang beda."

"Bagaimana dengan lily? Ya Lily putih tampaknya lebih tepat."

Laki-laki itu mengambil lalu menciuminya. Cintanya kepada Maria benar-benar tak ada bandingnya.

"Tapi jangan-jangan bunga lily itu bunga kematian? Saat Lady Di meninggal, di atas peti matinya tampak seikat lily putih. Oh tidak.... Saya tak ingin cinta saya mati sebelum berbuah."

Lalu ia melihat anggrek yang kuntum bunganya beragam warna. Anggrek Papua dari spesies Dendrobium violaceoflavens. Selain indah bunga anggrek ini berkelas, menang di salah satu kontes internasional. Anggrek ini sangat langka dan mahal.

Tito mundur beberapa langkah, mengamati dari jarak yang lebih jauh. Lalu ia merasa tak sreg, bunga anggrek ini kaku, seperti bunga tiruan. Mirip bunga plastik yang dijual pedagang keliling atau di perempatan lampu merah. Ia mengembalikan anggrek tersebut ke tempatnya semula.

Laki-laki itu menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia belum menemukan bunga yang pas untuk kekasihnya. Tiba-tiba saja ia sudah merasa menjadi kekasih Maria.

Ia menyapukan pandangannya lebih seksama ke seluruh bunga yang dipajang di dalam toko. Sebuah teve menyiarkan berita siang. Tampak di layar polisi beramai-ramai menggerebeg sebuah rumah. Polisi-polisi itu menangkap kepala sekte keagamaan yang diduga mengajarkan aliran sesat. Kepala sekte yang perempuan itu dulunya adalah perangkai bunga.

"Tepat sekali, bunga kering!"

Tito berkesimpulan, selama ini orang jarang yang memberikan rangkaian bunga kering kepada kekasihnya.

"Saya kira ini lebih bisa mewakili perasaanku. Namanya rangkaian, pasti terdiri dari bermacam-macam bunga. Ada melati yang melambangkan kesucian. Anyelir yang penuh pesona, krisan yang penuh persahabatan dan aster yang berarti setia. Tapi harus ada edelweis, bunga keabadian cinta.

Yakin dengan pilihannya, ia lalu menghampiri penjaga tokonya.

"Mbak saya minta dibuatkan rangkaian bunga kering”.

"Mau buat parcel ya mas?"

"Bukan!

"Oh untuk bikin souvenir?"

Alis mata Tito terangkat ke atas.

"Memang hanya untuk keperluan itu saja"?

"Bunga itu kan sebenarnya sisa, bunga yang tak laku mas. Sayang kan kalau dibuang. Jadi mending dikeringkan bisa menghasilkan uang lagi.”

"Mati aku!"

Laki-laki itu memukul jidatnya.

"Tak mungkin aku memberikan sampah kering itu kepada Maria. Bisa-bisa aku ditertawakannya habis-habisan. Aku harus cari ide yang lebih hebat dan jenial. Sekali lagi Tito menyusuri Jalan Barito. Merasa tak menemukan ide, ia menuju ke mal Pondok Indah yang dekat dengan kantornya. Sekalian makan siang.

Di mal itu, tampak kerumunan ibu-ibu di sebuah stand. Ada pameran kaktus internasional. Kaktus dari Amerika Selatan, Meksiko, Kanada Utara dan Kepulauan Galapagos di pamerkan. Bermacam-macam bentuk pohonnya. Ada yang berbentuk bulat-bulat, ada yang seperti botol bertotol-totol. Tapi semuanya sama, berduri.

Tito menyeruak diantara ibu-ibu muda yang bergerombol. Ia mamandang satu persatu kaktus yang berada dalam pot-pot berbentuk hewan lucu karya keramikus terkenal.

"Nah ini yang aku cari. Ini akan menjadi pemberian yang spesial, untuk orang yang spesial juga."

Lalu laki-laki itu melangkah menemui penjaganyanya.

"Mbak ada ngga kaktus yang berbunga pink?"

"Pasti ada.”

Perempuan itu mengambil kaktus jenis Astrophytum Asterias. Bunganya masih kuncup. Kira-kira seminggu lagi mekar sempurna. Perempuan itu mengangkat kaktus yang tingginya kira-kira 15 cm dan menunjuk kuncup bunga yang seperti tunas.

"Bisa nggak dipercepat?"

"Kaktus beda dengan tanaman lain. Kalau dipaksa, bunganya akan lembek dan cepat layu."

Tito merasa waktu seminggu itu terlalu lama.

"Gimana agar bunganya tetap bagus?"

"Bapak ikut saya ke meja sebelah sana saja."

Mereka melangkah menuju ke dua meja yang berjejer. Ada dua perempuan cantik duduk berhadap-hadapan. Seorang calon pembeli sedang konsultasi. Menatap perempuan berambut sebahu itu, Tito serasa jantugnya berhenti. Bicaranya menjadi agak tergagap.

"Maria, kok ada di sini?"

"Pak Tito, sedang mencari kaktus juga? "

"Iya. Ternyata kita punya kesenangan yang sama. Kenapa kau tak pernah cerita? Sudah berapa banyak koleksi yang kau punya?

Tito sedang bermain lenong siang itu.

"Oh ngga pak, saya lagi nyari kaktus yang pas buat pacar saya"

"Pacar? "

Mata Tito terbelalak. Tapi ia cepat menguasai diri.

"Ya, saya akan putuskan pacar saya."

Tiba-tiba hp Tito berdering.

"Ya, saya sedang miting di luar, tak bisa online. Sebentar lagi saya sampai kantor".

Tito merasa seperti dikejar-kejar harimau sampai ke bibir jurang.

Thursday, January 26, 2006

Taman yang membebaskan

Orang-orang menganggap dirinya nyaris tak punya cela. Temannya bahkan mencandai hidupnya tak ada tantangan. "Rupawan parasnya, cerdas otaknya dan banyak hartanya". Sebagian besar perempuan menginginkan jadi kekasihnya. Banyak tempat pelesiran di ceruk benua telah di datanginya. Nyaris semua keinginan duniawinya bisa terpenuhi. Tapi tak ada yang tahu persis kehidupannya yang sebenarnya.

Seperti pada malam itu. Tito mondar-mandir menatap bayangannya yang sempurna di lantai kamarnya. Ia menuju jendela yang terbuka. Matanya menatap ke langit yang tak kuat lagi menahan beban. Tampias air hujan menerpa wajahya, berharap ia bisa mendinginkan kepalanya yang serasa bergolak.

Suara adzan yang membentur desau angin terdengar lemah. Tito menunduk. Ini hari terakhir buka puasa tahun ini. Ia tak puasa, seperti tahun-tahun sebelumnya yang lewat begitu saja. Tapi malam ini terasa beda. Entah kenapa. Ia sendirian di rumah besar itu. Ayahnya lebih suka menenggelamkan diri dalam tumpukan pekerjaan.

Ia menatap bingkai foto dirinya yang telah berwarna kecoklatan. Foto ketika ia dan kedua orang tuanya berada di sebuah taman. Ia merindukan dipanggul ayahnya, melihat bunga-bunga, duduk-duduk di bawah pohon-pohon berakar tunjang. Tito suka memakai akar-akar yang menjuntai itu untuk berayun. Persis seperti monyet-monyet yang gelantungan di hutan belantara Kalimantan. Tak pernah ia takut jatuh. Ada rumput hijau tebal yang siap menangkap tubuhnya. Saat beranjak dewasa, keindahan itu memudar pelan-pelan bersama usainya tubuh kecilku.

Dan puncaknya adalah pagi itu. Dari kamarnya terdengar percakapan orang tuanya yang mula-mula hanya obrolan biasa. Lama-lama suara-suara itu mengeras. Tito tak begitu memperhatikan. Percekcokan seperti itu sudah sering terjadi setiap pagi. Tapi pertengkaran kali ini mulai menghebat menjadi caci maki.

"Braak...
Sebuah benda membentur lantai.

"Sudah gila kamu! "Menjijikkan. Pergi saja dengan perempuan sialan itu!"
"Hayo, mau mu apa? Menceraikan aku, hayo kalau berani!

Bukk..!
Plakk...!
"Diam!. Belum puas kamu menghamburkan uang-uang itu. Dasar perempuan belatung!"! Kau habiskan 10 juta hanya untuk clutch anjing itu? Kau tak pernah mengerti betapa kerasnya aku kerja. "Kamu tak berhak mengatur aku. "

Plakk...
Brugggggggggg...

Bunyi itu mengesankan sesuatu yang berat ambruk. Kepala ibunya membentur tembok. Dokter mengatakan saraf tulang belakangnya tergencet dan harus dioperasi hari itu juga. Keluarga dimintakan untuk menyediakan darah AB. Dan hari itu persediaan darah yang dibutuhkan di PMI ludes. Lalu Tito menelpon temannya. Tak ada yang nyambung, "out of area". Tito merasa teman-temannya menjauh ketika ia sedang membutuhkan.

Ia mengirim email ke beberapa milis dan membuat pengumuman untuk disiarkan ke radio-radio. Ia akan membeli berapa pun harga yang diminta. Tak ada respon. Entah karena memang tak ada darah yang cocok, atau pesannya tak sampai. Malang. Segudang uang yang dimilikinya tak bisa menggantikan darah yang dibutuhkan ibunya.

Sejak itu ia membenci pagi.

Setahun ini ayahnya memintanya mengurus perkebunan karet yang berhektar-hektar di Kalimantan. Bukan hanya pekerjaan yang membuat ia enggan. Tapi rutinitas harian yang mengharuskan bangun pagi dan bertemu orang-orang yang tak punya muka. Orang-orang yang mencari muka yang hilang entah kemana. Terutama sekretarisnya.

Yang membuatnya muak, perempuan itu selalu menggodanya. Dari caranya berdandan dan bertutur, Tito tahu betul perempuan itu menginginkan uangnya belaka. Ia tidak menyukainya. Kalau mau, ia bisa memilih perempuan-perempuan di tempat clubbingnya.

Menjadi pimpinan puncak perusahaan pun tak membuatnya nyaman. Tiap minggu harus mengecek keadaan di lapangan dan urusan lain yang membuatnya makin tak betah. Tito memang tak menyukai bidang perkebunan yang telah dirintis ayahnya.

**

Ruangan kamar itu menjadi sempit. Deretan lemari yang berisi koleksi sepatu yang jumlahnya melebihi hari dalam setahun itu serasa seperti menghimpitnya. Suara-suara takbir malam menyeruak menusuk-nusuk ke dalam telinganya. Ia lalu teringat malam-malam di tempat clubbingnya. Ketika berdansa, menenggak Dry wine, Vermouth, Cocktail wine, Cordial hingga Spirits. Perempuan-perempuan setengah telanjang yang mengelilinginya dalam keremangan. Hentakan musik yang makin keras menjelang dinihari dan orang-orang yang berjingkrak makin bersemangat.

Akankah ia akan mengulang petualangan malamnya?

Tito mendesah. Ia menuju ke rak koleksi dvd nya. Dia memunguti barang-barang itu lalu memasukkannya ke dalam kardus. Semua film bf dijadikan satu dalam plastik sampah. Tangannya menyusupke laci, mencari bong lalu menginjaknya. Poster-poster di dinding dirampas. Kemeja-kemeja yang kini kebesaran, yang jumlahnya melebihi hari dalam setahun ia kumpulkan . Ia mengangkutnya ke pekarangan belakang lalu ia membakarnya.

Di tengah guyuran hujan, dia melangkah keluar. Di seberang jalan tampak taksi parkir. Ia melambaikan tangan memanggil salah satunya.

"Malam pak."

"Saya perempuan.

"Oh maaf. Ibu ternyata".

"Panggil saja Maria."

"Tolong antarkan saya"

Kemana?"

"Kemana saja."Tangannya mengusap-usap rambutnya yang basah.

Tito masuk duduk di kursi depan. Mereka berdua meluncur menyusuri jalanan. Udara yang menyembur dari ac mobil nyaris membekukan tubuhnya. Jalanan jakarta dini hari di malam takbiran itu benar-benar sunyi. Satu dua taksi yang lewat. Kendaraan lain tak ada.

Tepat di bundaran yang ada patung pahlawan, sayup-sayup ia mendengar suara canda ria anak-anak dan kecipak air. Makin dekat, terlihat jelas, anak-anak itu telanjang. Mereka mandi dalam kolam air mancur yang airnya kehijauan. Dalam keremangan lampu jalan, tubuh tubuh coklat itu makin mengkilat-kilat.

"Sudah lama menjadi sopir taksi?

"Sejak suamiku meninggal. Lima tahun lalu." Maria tetap menatap kedepan.

"Tidak pernah merasa jenuh dengan rutinitas itu?"
"Dulu saya seperti mereka, orang-orang yang terjebak pada rutinitas. Mereka terbelenggu persepsi-persepsi yang dianggapnya benar. Lahir, sekolah, menikah lalu mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya sampai tak tahu kapan harus berhenti. Mereka mengira semua itu bisa membahagiakan. Mereka seperti orang-orang yang tak punya kehendak pribadi."

Maria bersemangat menceritakan pengalaman hidupnya. Setelah lulus kuliah ia lalu menikah dan mempunyai dua anak. Tapi perkawinan itu tak lama. Suami dan kedua anaknya meninggal dalam kecelakaan di tol ketika menjemput dirinya ke bandara. Waktu itu Maria pulang dari Taiwan sebagai TKI. Maria kehilangan orang-orang yang dicintainya. Perisitwa itu yang membuat ia tak ingin memiliki apa-apa lagi.

"Bukankah tak punya apa-apa, berarti tak kan pernah kehilangan?, tanyanya yang tak meminta jawaban.

Seminggu dua kali, setelah narik taksi, Maria menjadi guru. Ia mengumpulkan anak-anak jalanan yang tak mendapat kesempatan belajar di sekolah formal. Tanah kosong di bawah jembatan layang yang diapit dua jalan raya itu dijadikan sekolahan. Di kanan kirinya berbatas pagar kawat. Tiang-tiang penyangga jembatan itu terbungkus mural hasil cipta anak-anak didiknya. Tak ada gambar burung garuda. Yang ada poster Iwan Fals yang sedang berteriak mengepalkan tangan. Di bagian tengah sengaja di cat hitam, dipakai sebagai papan tulis. Sering ketika hujan, kelas itu terendam banjir. Sebelum pelajaran mulai, anak-anak membersihkan sampah-sampah yang tersangkut di kursi-kursi.

Kelas diadakan sore hari. Ketika anak-anak berhenti bekerja. Mereka menjadi pengamen, penjual koran, pengasong makanan yang diambilnya dari ibu-ibu yang tinggal di deketnya. Karena mereka tak mandi, bermacam bau meruap bercampur dengan debu yang terbawa angin. Tapi semangat anak-anak itu melemah. Karena guru mereka selalu memberikan pesan: keajaiban akan datang ketika kita menginginkanya.

Anak-anak itu tak pakai baju seragam dan tak bersepatu. Buku tulisnya hanya satu. Dan pensil nya pun hanya satu. Buku pelajarannya dari buku bekas, orang-orang yang menyumbangkan. Tak ada tiang bendera. Lonceng tanda pelajaran berasal dari potongan sisa rel yang digantung. Cara menyembunyikannya hanya dengan memukul nya memakai potongan bambu.

"Bersama anak-anak, hidup saya menjadi lebih berarti. Aku tak punya uang untuk memfasilitasi mereka. Tapi saya masih punya sisa tenaga.

Tito khusuk mendengarkan. Ada kehidupan lain yang baru saja ia tahu.

"Sampai kapan kau akan melakukan itu?"

"Entah. Begitu banyak anak-anak dan orang tua yang tak beruntung. Mereka harus diselamatkan."

"Apa yang kau dapatkan dari itu semua?"

"Tak penting benar itu. Yang lebih penting saya bisa menjalankan peran kita di sini. Kita sedang berada di tengah-tengah perjalanan. Waktu kita hanya sedikit. Kita harus memanfaatkan waktu yang sebentar ini untuk berbagi.. Kita harus menjalankan perintah Tuhan", Maria menegaskan.

"Perintah yang mana?"

"Ceriakan orang-orang di sekitarmu!.

"Bagaimana dengan beribadah? Bukankah itu juga perintah Tuhan"

"Ya, hanya salah satunya. Waktu saya habis, Saya harus pulang. Pagi-pagi saya harus memberikan pelayanan".

Tito diam. Ingatannya menerobos ke peristiwa sunatan masal, pembagian sembakok gratis di daerah-daerah terpencil dekat perkebunannya. Perkampungan yang penghuninya sebagai buruh karet perkebunan. Maria bagian dari mereka?

"Boleh saya ikut kesana besok?

Silakan aja".

Perasaan takut membayanginya. Bagaimana andai ketahuan dirinya yang muslim masuk ke gereja?. Jangan-jangan dikira penyelundup yang akan menghancurkan gereja-gereja pada malam takbiran. Tapi Maria bisa meyakinkan. Itu hanya permainan perasaannya saja.

Sebuah Gedung, tak ada papan nama. Hanya ada tulisan dari kuningan berwarna emas menempel di tembok: Wisma Agung. Ternyata gereja itu berada dalam sebuah Wisma di lantai dua. Waktu itu tahun 1988, ketika kerusuhan terjadi, gereja itu menjadi sasaran amarah orang-orang yang rasis. Dan Gereja itu hancur, rata dengan tanah.

**
Tito menyerahkan semua tabungan dan barang-barang yang kini dianggapnya beban. Ia meninggalkan pekerjaan yang dianggapnya telah mengkerdilkan dirinya. Ia sadar bekerja hakikatnya hanya mencari uang, mencari pengaruh dan status. Tak hanya itu, ia merasa semua kepemilikan itu membuatnya menjadi budak. Karena semua pikiran dan tenaga diarahkan untuk selalu mengumpulkan uang lebih banyak dan lebih banyak lagi.

Tito melenggang ke jalan. Ia pergi, berkeliaran mencari kebebasan dan kebahagiaan di setiap ruasnya. Kini ia sadar, hidup adalah sebuah pengembaraan yang tak pernah mengenal kata pulang.

Tuesday, October 25, 2005

laki-laki yang mencari kitab suci

laki-laki yang mencari kitab suci
cerpen k. winarta
Ketika aku duduk mengetik artikel yang deadlineya jam 00 , mendadak listrik padam. Sekeliling gelap, tak teraba. Senyap menyergap. Desau suara komputer menggumam makin pelan. Udara diam, hanya pikiran dan jari-jariku yang masih mengetik asal. Dalam keheningan, segala sesuatunya menjadi lebih jernih. Pendengaranku menajam. Aku bisa mendengar langkah-langkah cicak di dinding. Aku juga mendengar suara kepak sayap nyamuk yang paling lembut. Dan yang paling dahsyat, aku bisa mendengar perasaanku berbicara.

Ia mengajak keluar. Aku melangkah ke halaman. Kutatap langit. Bulan purnama bulat penuh. Langit berwarna biru terang. Tak ada gumpalan awan setitik pun. Dulu, saat seperti ini aku bermain galasin dengan kawan-kawan. Tapi malam ini sungguh berbeda. Sunyi, tak ada suara-suara.

Belum selesai heranku, datang sinar terang menyilaukan dari atas pohon palem. Sekeliling meputih. Bunga-bunga di sepanjang pagar lenyap. Juga pohon palem di hadapankku. Di tengah-tengah sinar itu muncul sesosok tubuh mirip diriku. Bentuk tubuh, tinggi dan wajahnya sangat mirip. Aku kucek-kucek mataku, ternyata tak hanya mirip. Dia memang persis sama dengan diriku.

"Aku adalah kau", dia berkata pelan.

"Bukan, hai makhluk putih", bantahku keras.

"Sejak kau dalam rahim, aku selalu menjagamu. Kamu pasti melupakanku. Juga janji yang pernah kau ucapkan waktu itu. Aku datang untuk mengingatkanmu. Saatnya kini kau mencari kitab suci agar kau bisa menyelesaikan tugasmu disini."

Dia mengajakku berjalan melewati sebuah padang luas. Sekejap kami sudberada di tepi laut. Aku merasakan kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

"Lihatlah laut itu. Ombaknya tak pernah berhenti. Kau tahu kenapa datang selalu sejajar dengan garis pantai?".

Sebelum aku menjawab pertanyaan itu, dia melanjutkan.

"Itulah hidup. Banyak misteri yang belum terpecahkan. Hanya para pencari yang akan menemukan jawabannya. Dan belum tentu semua pencari menemukannya.

Malam itu aku tertidur di bawah pohon. Sebelum orang-orang menemukanku, aku bergegas masuk kamar. Lenganku bentol-bentol merah bekas gigitan nyamuk. Aku menyandar di kursi, belum yakin peristiwa semalam. Benarkah peristiwa itu nyata?. Aku ingin mengabari teman-teman kost, tapi tak berani. Aku takut mereka akan mensahkan aku sebagai orang gila beneran.

Aku menyimpan rapat-rapat rahasia itu.

Pagi itu aku membongkar rak buku. Aku temukan buku yang selama ini diyakini banyak orang sebagai kitab suci, termasuk aku. Setiap waktu aku baca buku itu berulang-ulang, tapi tetap tak paham maknanya. Kitab mana lagi yang dimaksud makhluk putih itu? Apakah kitab ini palsu? Kenapa orang-orang tak pernah mempermasalahkannya?

Peristiwa itu benar-benar mengkampak akal sehatku.

Debu-debu meruap dari buku-buku lama yang tak terawat. Aku tersadar, selama ini aku terlalu asyik dengan pekerjaanku. Buku-buku itu serasa baru aku beli kemarin. Bahkan ada beberapa yang masih tersegel. Aku belum sempat membacanya.

Perjalananku ternyata telah lama, tapi rupanya aku selama ini hanya berputar-putar di satu tempat. Tak ada perubahan berlebihan atas diriku. Masih sebagai reporter di sebuah media dan masih sebagai anak kost.

Aku menghitung-hitung apa yang telah kudapatkan selama kerja di perusahaanku tempat bekerja . Aku mengambil kertas dan pensil, mencatat apa-apa yang aku dapatkan. Sebuah komputer, sebuah buku tabungan yang tak seberapa saldonya. Ada selembar polis asuransi.

"Aku tak punya benda berharga apa pun", aku tersenyum sendiri. Dalam hati aku mentertawakan hidupku yang mirip komidi putar yang sedang mogok. Tiap hari dikejar-kejar deadline. Nyaris seluruh waktuku habis untuk pekerjaan. Beruntung, sampai saat ini tak ada masalah yang menyulitkan. Sampai peristiwa malam itu terjadi.

Apes! Hidup yang selalu tak bisa diduga. Malam itu aku tak bisa menyerahkan artikel sampai waktu deadline habis.

Aku bergegas ke kantor. Menumpang angkot yang melewati rumah-rumah mewah di kawasan elit. Rumah-rumah itu dingin, tak berpenghuni. Pemiliknya lebih suka berada di luar. Merayakan acara keluarga, ngobrol dan makan malam di tempat lain. Bahkan pada saat tertentu mereka lebih suka tidur juga di tempat lain.

Sesampai di kantor, langsung aku mendapatkan surat penugasan baru. Aku duduk, enggan membukanya. Aku nyaris shock, aku dipindah ke divisi lain yang tak ada hubungannya dengan pekerjaanku sebagai jurnalis. Darah di jantungku menggelegak. Aku merasa dilecehkan dan dipermalukan. Aku langsung menghadap melabrak atasanku.

"Aku kan wartawan, masak disuruh jadi operator, tangkisku.

"Memang dulu di SK kan tak disebutkan secara detail jobs description nya?, jawab atasannya enteng.

" Kalau begitu, bisa saja dong suatu saat nanti aku disuruh bikin kopi.

Dadaku serasa terbentuk tembok besar china. Nafasku memburu satu-satu. Rupanya setan-setan melihat keadaanku. Setan-setan seperti mendapat komando langsung melesat, nyungsep ke urat-urat darah yang mengalir ke seluruh tubuhku. Setan-setan lalu mengobarkan amarah dan niat jahatku. Otakku menyuruhku membuat sebuah rencana pembalasan. Dendam menggumpal di kepalaku.

Sejak saat itu aku pergi meninggalkan pekerjaan, selamanya. Tak akan pernah kembali . Kini aku punya waktu bebas, lepas dari jaring-jaring terkutuk itu. Aku makin bersemangat dalam pencarian. Di negeri ini begitu banyak bertebaran kitab suci. Kitab itu pasti tersimpan di tempat yang tak mungkin ada kejahatan. Tempat semua orang merasa aman dan nyaman.

Aku mulai mengubek-ubek perpustakaan dari kota yang satu ke kota lain. Aku berlarian dari satu orang ke orang lain menanyakannya. Searching di internet dan menelepon semua kolega. Tapi hasilnya kosong. Mereka semua menggelengkan kepala. Aku tak menyerah. Aku bertanya ke lebih banyak orang lagi. Hasilnya sama, mereka tidak tahu buku yang aku maksud.

Hari ini memang bukan keberuntunganku. Dalam perjalanan pulang, jalanan macet total. Orang-orang bergerombol dengan mata was-was di pinggir-pinggir jalan. Jalan itu sengaja di blokir dengan barikade polisi yang membawa tameng. Sedang terjadi tawuran antar warga!. Asap membumbung tinggi, membentuk gumpalan-gumpalan pekat di udara. Ada rumah yang dibakar. Rumah ibadah yang dianggap mengajarkan aliran sesat.

Semua kendaraan segera menghindar dengan berbalik arah. Aku menyingkir dari kerumunan. Menyaksikan orang-orang yang digelandang polisi ke atas truk. Petugas kesehatan sibuk mengurus orang-orang yang kepalanya bocor terkena lemparan batu. Beberapa orang pingsan digotong ke dalam ambulance.

Nyaliku menciut melihat darah. Aku lelah. Leherku terasa panas dicekik. Aku menuju ke sebuah warung es di simpang kiri jalan. Di bawah pohon asam yang rindang, udara menyapu wajah-wajah orang yang sedang menikmati es buah. Aku bergabung dengan mereka. Tapi mereka acuh, atau terlalu asyik membicarakan tawuran yang masih berlangsung.

"Orang macam apa yang senang melihat saudaranya terluka?, kata bapak yang duduk paling ujung.

"Orang melihat kebenaran dari versinya sendiri-sendiri", jawab yang lain.

"Kebenaran. Memang kebenaran itu ada banyak banget?

"Bukan begitu, " jawabnya pendek.

"Terus?"

"Kitab suciku ada dua. Kitab lama dan Kitab Baru."

"Mm... Apakah mungkin nanti akan ada Kitab yang lebih baru lagi?" Tanya bapak yang sejak tadi diam saja.

"Kemungkinan tidak ada, kalau penambahan dimungkinkan ada. Tapi harus melalui sebuah konferensi tertentu. Tapi itu tak mudah." Laki-laki yang terbungkus kain hitam itu memberikan penjelasan.

Di sampingnya, seorang berkepala plontos yang matanya teduh membuka ikatan lontar-lontar dari balik bajunya.

"Kita harus bersikap dewasa dan mulai melepaskan kepunyaan yang kita miliki.

"Tak ada yang berharga yang aku punyai."

"Ada. Ego, jawabnya pendek."

Kini giliran orang yang suaranya paling lantang. Setengah berteriak dia menjelaskan isi kitab yang dimilikinya.

Semua mengklaim kitabnyalah yang tersempurna.

Aku meninggalkan mereka bertiga dan menunggu angkot pulang. Kepalaku makin penuh pertanyaan-pertanyaan yang belum kutemukan jawabnya.

Aku ingat makhluk putih malam purnama itu. Aku ingin menemui dia lagi. Saya masih belum lupa, makhluk putih itu datang ketika mati lampu. Apakah aku harus menuggu mati lampu lagi? Malam ini tempat kostku tak mendapat giliran pemadaman listrik. baru minggu depan. Seminggu terlalu lama, aku tak sabar menunggu.

Ketika orang-orang terlelap aku berdoa. Aku sangat ingin malam ini bisa bertemu makhluk putih itu. Dan benar, keinginanku menjadi nyata.

"Hai makhluk putih, kemana aku harus menemukan kitab suci itu?"

"Tak perlu kau pergi selangkah pun!"

"Bagaimana dengan kitab-kitab milik orang-orang itu?

"Tak perlu kau memakai mata untuk membacanya, tak perlu telinga untuk mendengarnya. Kitab itu ada di dalam dirimu. Kitab-kitab mereka hanyalah pelita untuk menerangi kitab yang ada dalam dirinya".

"Ah, kenapa kau buat aku bingung?"

"Sabar saja, kau akan menemukan. Dalam hening, segala sesuatunya menjadi lebih jernih. Saat itu, perasaanmu akan berbicara kepadamu. Kau bisa berdialog dengannya"

Aku tersadar ketika kepalaku terantuk pada sebuah sandaran tempat tidur. Ingat artikel yang kukirimkan kemarin ditolak lagi. Juga pekerjaan yang dijanjikan temanku belum ada kabarnya. Pagi itu aku ingin kemana-mana, tak ingin apa-apa.

Wednesday, October 19, 2005

malaikat yang disembunyikan Tuhan

Orang-orang beriringan ke kuburan melepas jenasah mbah Wajo. Kebanyakan pengantar itu orang asing, orang yang tak dikenal oleh tetangganya. Entah siapa yang menyampaikan berita duka itu. Mereka datang serentak, layaknya menghadiri undangan perkawinan yang sudah ditentukan hari dan jamnya. Banyak tamu berdatangan. Mirip resepsi perkawinan seorang pejabat besar, padahal dia tak punya keluarga.

Mbah wajo meninggal pada bulan puasa. Kata orang-orang, itu pertanda baik. Ada desas-desus yang mengatakan, dia bisa memilih hari kematiannya sendiri. Sebelum meninggal dia tidak sakit, dan selama hidupnya jarang sakit. Usianya sekitar 100 tahun. Berbeda jauh dibandingkan dengan tetangganya yang meninggal duluan di kuburan ujung kampung itu.

Ketika pemimpin doa mengakhiri kata-katanya, keanehan terjadi. Gundukan tanah merah berselimut bunga-bunga itu melesak, ambles. Orang-orang berpandangan. Sebagian mempercepat langkah menjauhi kuburan.

Aku berada di antara kerumunan pelayat di terik matahari itu. Belum hilang keherananku, dari belakang seseorang membisikiku.

"Kamu lihat apa yang terbungkus dalam kain putih dalam lubang itu?"

"Ya. Tentu saja itu jenasah mbah Wajo, kataku mantap.

"Jangan percaya penglihatanmu. Mata itu menipu!"

"Maksudnya? Aku membentak.

"Begini, lihatlah sisi sisi rel yang kedua ujungnya menyatu. Amati kuman-kuman yang bercanda di sela-sela jarimu yang basah keringat. Mirip dengan itu, tapi berbeda. Yang dikuburkan tadi bukanlah jasad mbah Wajo.

"Lalu, apa?"

"Keris".

Keris? Mbah Wajo berubah menjadi keris?

"Bukan. Mbah Wajo tak bisa berubah menjadi keris. Dan mbah Wajo sebenarnya juga tidak mati.

"Dia moksa? Seperti Isa?"

"Nanti kau akan tahu jawabannya. Kau lihat banyak orang-orang yang tak kau kenal sama sekali?"

"Sangat banyak."

"Mbah Wajo menyelinap di antara kerumunan itu. Tapi jangan bilang siapa-siapa, nanti gempar!

"Kenapa kau bilang ke saya?"

Aku ingin kau tahu, jangan begitu percaya dengan penglihatanmu. Melihatlah dari sisi yang berbeda. Kelak kau akan bisa melihat malaikat-malaikat yang disembunyikan Tuhan".

Laki-laki itu terus bicara. Nadanya suaranya makin merendah. Dia mendekatkan mulutnya ke kuping sebelah kiri saya. Bau sengak meruap ke udara, nafasku nyaris terhenti . Aku mencoba menjauh. Tapi dia terus mengejar.

"Konon Tuhan menciptakan dunia di hari Selasa. Dan sampai sekarang pun Tuhan masih terus mencipta. Tiap detik muncul galaksi-galaksi baru, negara-negara baru dan pulau-pulau baru. Juga makhluk-makhluk baru yang membuat panik manusia. CiptaanNya terakhir konon binatang yang mampu bicara."

Tanpa aku sadari, kami terpisah dari iring-iringan. Kami berada di jalan sempit dengan laki-laki asing yang tiba-tiba akrab.

Teringat guruku agama dulu suka menceritakan sepuluh malaikat. Menurutnya, doa manusia akan cepat dikabulkan Tuhan jika malaikat yang meminta. Sejak itu aku penasaranku untuk bertemu dengan malaikat. Selain minta tolong, juga ingin berbincang lama.

Aku mengubah agenda mingguan. Rutinitas Sabtu Minggu bersama kawan-kawan kutinggalkan. Aku pergi ke tempat-tempat ibadah di kota ini dan kota lain. Malam ini aku sampai di sebuah tempat ibadah terbesar. Aku melihat begitu banyak orang bersembahyang. Mereka bersama-sama berdoa menengadahkan tangan ke langit. Seseorang berpakain putih putih melangkah ke mimbar. Dia berbicara lantang mengenai surga dan neraka. Hadirin tersihir ucapan-ucapan yang mendayu kadang merintih. Terlalu sering aku mendengar, hingga perutku mual-mual.

Aku melangkah lemah ke tempat kost. Untuk menghilangkan penat, aku menyalakan tv. Semua chanel menyiarkan ceramah setiap hari setiap bulan sepanjang tahun. Penceramahnya badut-badut. Perempuan cantik dan wangi menemani di sampingnya. Mereka menari-nari, menyanyi dan juga melucu.

Penasaranku belum terpuaskan.

Aku menjelajah internet, mencari semua hal yang berhubungan dengan malaikat. Hingga larut, data-data secuil pun tak ada.

Ingatanku kembali ke mbah Wajo. Diakah malaikat itu? Aku merasa girang. Pencarianku akan berakhir. Aku bertanya kepada orang tua-orang tua yang tinggal di sekitar rumahnya. Kebanyakan mereka tidak tahu banyak. Mereka tak begitu mempedulikan mbah Wajo.

Pernah sesekali aku bermain ke rumahnya. Ia tinggal sendirian. Tak punya isteri dan anak. Rumahnya tak berdapur. Dari gumaman tetangga, ia tak pernah makan. Ada yang mengatakan dia selalu berpuasa. Yang lain bercerita ia hanya makan sesisir pisang mas sehari.

Mbah Wajo melakukannya bukan karena miskin. Dia mendapatkan uang dari orang-orang yang meminta bantuan tenaganya. Kadang mengecat atau pembetulan rumah lainnya. Tubuhnya kurus, perutnya rata. Tapi kulitnya selalu bersih dan terlihat segar. Kepada semua orang dia menyapa dengan senyum.

Ada satu dua tamunya yang datang. Entah dari daerah mana. Dia suka bercerita saat akan ada tamu. Dia mempersiapkan diri dan tak pergi. Di sela- sela waktu senggangnya ia suka menceritakan negeri-negeri yang jauh. Esoknya aku dan anak-anak lain minta melanjutkan lagi.


**
Aku terlambat satu jam dari waktu yang aku janjikan. Sore itu hujan mengguyur bagai dituang dari langit. Jalanan macet. Tak ada taksi menuju ke tempat itu. Sejak masih di perjalanan, Pak Moja menelpon terus. Menanyakan sampai dimana, berapa menit lagi.

Di rumah yang berpagar tinggi itu, jam menunjukkan pukul 21.00. Beberapa orang duduk di lantai yang tertutup karpet merah maroon.

Dua puluhan orang berkerumun melingkar di ruang tamu. Kusapukan mata ke sekeliling. Aku menemukan bungkusan kain warna putih kusam, bentuknya kotak sebesar korek api. Ada juga tulisan arab melintang di atasnya.

Aku melangkah ke dalam. Bersalaman dengan orang-orang yang baru aku kenal wajahnya malam itu. Pak Moja duduk di ujung pojok ruangan. Dia yang akan memimpin acara ini.

Dengan isyarat tangan, Pak Moja menyuruhku menutup pintu gerbang dan memastikan menguncinya. Acara akan dimulai. Pak Moja mulai bicara menyampaikan maksud pertemuan malam itu. Kata dia, malam ini bersama-sama akan mengirim doa ke leluhur, agar semua selamat. Dia mulai membacakan syair-syair yang tak kumengerti maksudnya. Matanya terpejam. Entah berapa kali ia mengulang-ulang. Aku sibuk mengamati beragam makanan yang terhampar begitu banyak.

Apel merah, jeruk, jajan pasar yang biasa terdapat diwarung rokok, ayam goreng dan semacam sayur kacang merah mirip sayur gudeg. Setiap jenis makanan tersebut berjumlah tiga biji, kecuali agar-agar dan emping. Masing-masing satu piring penuh.

Tak hanya makanan yang komplet. Minuman pun tak kalah bermacamnya. Minuman, teh, kopi, es kelapa muda dan air putih dalam gelas. Berbungkus-bungkus rokok ditumpuk meninggi. Yangg paling menarik perhatian dua baskom berisi bermacam bunga-bunga.

Pak Moja terus-menerus mengucap syairnya. Suaranya bak dengung lebah yang mendapatkan bunga. Lalu ia mengambil rokok lalu menyulutnya. Asap rokok meruap ke seluruh ruangan. Bercampur dengan asap dupa yang telah dinyalakan sebelumnya.

Serasa terhipnotis hadirin mengikuti ucapan-ucapan syair Pak Moja. Makin lama makin cepat. Nafas Pak Moja tersengal-sengal. Aku panik. Acara macam apa ini? Aku menduga pasti terjadi sesuatu yang tidak biasa.

Benar! Pak Moja merintih, menangis menghiba-iba. Air matanya setetes pun tak keluar. Trance. Aku tetap diam. Orang-orang saling pandang. Aku menduga-duga kejadian selanjutnya.


Tiba-tiba tubuhnya ambruk. Hanya sebentar. Tubuh kurus itu bangkit memeluk isterinya. Sang isteri memberi isyarat kepada orang yang hadir. Roh telah datang.

Roh itu mengulurkan tangan. Seorang bapak segera menyambut dan menciuminya. Setengah berbisik bertanya.

"Maaf siapa yang datang ini? Eyang Agung?" Dia menyebutkan nama kakeknya.

"Kau ternyata tak mengenaliku", Roh itu membentak. Nafasnya turun naik, seperti pemburu yang kehilangan jejak mangsanya.

"Ini Eyang Banu?, dia menyebut kerabatnya.

"Saya ini ibumu. Aku berterimakasih, kalian datang. Ingat pesanku jangan pernah bertikai. Hati-hati menjalani hidup yang keras ini."

Roh itu berjalan menabrak-nabrak orang yang duduk membentuk lingkaran. Semua berdiri serentak. Entah mereka takut terinjak atau memang sengaja menyambutnya. Roh membisikkan pesan yang nyaris sama ke setiap hadirin dengan memeluknya. Aku menolak!

Entah karena insiden itu atau bukan roh pergi. Pak Moja duduk di samping isterinya. Hening!
Aku berbisik menanyakan ke seorang bapak-bapak tadi berbincang dengan roh ibunya. Ternyata ibunya masih segar bugar di kampung.

Suara pak Moja memecah kesunyian itu. Katanya minggu lalu ia melakukan ritual yang sama di tempat lain. Semua anggota keluarga bisa berbincang dengan roh sangat lama. Hampir dua jam. Malam itu hanya satu roh yang datang. Menurutnya sebagian besar yang datang tak mempercayai ritual yang menghadirkan roh tersebut.

Pak Moja menyuruh kami mencicipi makanan. Sesendok untuk seorang. Maka berputarlah sendok itu dari satu mulut ke mulut orang lain. Perutku mual. Es kelapa muda dalam gelas itu langsung aku geser ke samping.

Acara malam itu berakhir dini hari. Pak Moja memberikan batu cincincoklat ketika aku pamit. Ia berbisik agar aku menyerahkan s ejumlah uang sebagai mahar. Mataku tinggal segaris, aku mengiyakannya.

Sejak itu Pak Moja lenyap ke perut bumi.

Ajaib, malam itu aku bermimpi bertemu Mbah Wajo. Ia mengajak ke sebuah tempat yang ramai. Mirip pasar malam. Pada perempuan pengemis berbaju kumal tangannya menunjuk. Katanya dia itulah malaikat yang menyamar.

"Jadi semua pengemis itu malaikat? Tanyaku.

"Kamu jangan terjebak pada simbol-simbol”.

Aku merogoh uang yang tersimpan dalam saku. Tergenggam seekor cicak dalam saku celanaku. Aku langsung meloncat bangun. Hari sudah Senin lagi. Setumpuk pekerjaan menunggu. Aku enggan beranjak.